musik

Minggu, 09 Juli 2017

Analisis Film

Judul film    : Forrest Gump
Genre           : comedy-drama
Bahasa        : Inggris 
Kelompok    :
Bella Apriana
Marlinda Diah N
Nadia Ulfha
Polina Arienday 


1. Resensi Film Forest Gump (1994)

Forrest Gump adalah anak yang tinggal disebuah tempat diamerika bernama Greenbow, Alabama. IQ yang dimilikinya cuma 75, padahal IQ minimal seseorang dikatakan normal dan dapat masuk sekolah negeri adalah 80. Ibunya mencoba segala cara agar Forrest dapat masuk ke sekolah negeri dan akhirnya setelah melalui perjuangan, Forrest dapat masuk sekolah negeri. Di sekolah ia mengenal sosok Jenny, seorang gadis yang hidup bersama ayahnya yang pemabuk tetapi Forrest tetap menyukai Jenny. Ia sering bermain bersama, bercanda dan belajar bersama. Forrest mempunyai hal yang tidak dimiliki anak seusianya yaitu mampu berlari dengan cepat. Saat ia diganggu oleh anak lain, ia memilih lari. Suatu hari, Forrest yang sudah masuk SMA diganggu oleh teman-temannya. Ia berlari dan masuk suatu lapangan pertandingan american football. Pelatih klub di Alabama melihat hal itu langsung merekrut Forrest untuk masuk ke timnya. Dan akhirnya ia sukses, meraih banyak prestasi sampai ia lulus sarjana. Setelah lulus sarjana, Forrest memutuskan untuk masuk militer. Dalam militer ia bertemu sosok Bubba. 
            Pemuda kulit hitam berobsesi menjadi Kapten Kapal Nelayan Udang. Iapun mengajak Forrest menjadi berbisnis udang setelah keluar dari militer. Saat tiba saat Forrest, Bubba dan teman- temannya militer memasuki medan pertempuran di Vietnam. Di sini ia bertemu dengan Letnan Dann, seorang Letnan yang terobsesi mati dimedan perang dan mendapat medali kehormatan. Suatu pagi, mereka diserang oleh musuh. Dengan lari cepatnya Forrest segera menyelamatkan beberapa temannya termasuk Bubba dan Letnan Dann namun Bubba tidak terselamatkan. Di rumah sakit, Forrest yang mendapat luka di bokongnya, mulai belajar bermain ping pong. Ia sangat hebat dalam bermain ping pong dan mewakili Amerika di pertandingan dunia sedangkan Letnan Dann selalu menyalahkan Forrest karena menyelamatkannya. Karena penyelamatan itulah Forrest dianugrahi 4 medali kehormatan. Sekembalinya dari Vietnam, ia mulai menekuni bisnis udang. Ia bersama Letnan Dann yang kakinya hilang karena ledakan di Vietnam membeli sebuah kapal dan membangun usaha dengan nama Bubba Gump Shrimp Corporation. Di awal usaha, ia tidak mendapatkan hasil. Sampai suatu saat semua kapal nelayan udang hancur di terjang ombak kecuali Kapal Gump. 


Setelah kejadian itu, Forrest mendapat banyak hasil. Setiap hari ia mendapat berkilo-kilo udang sehingga ia dapat mendirikan rumah sakit sendiri, gereja dan memberikan beberapa persenan kepada keluarga Bubba. Forrest bersama Letnan Dann sukses besar tetapi tiba-tiba kabar buruk datang. Ibu Forrest sakit dan akhirnya meninggal. Forrest kini jarang ikut berlayar mencari udang. Perusahaannya kini dikelola oleh Letnan Dann dan ia tinggal menikmati hasilnya. Sampai suatu ketika Jenny datang ke rumah Forrest dan Forrestpun melamarnya. Tetapi Jenny menolaknya. Forrest harus membuktikan cintanya dengan tidur dengannya. Saat pagi hari Jenny pergi dan mengembalikan medali yang tadinya Forrest berikan untuk Jenny. Tanpa pikir panjang. Forrest mulai mencari dimana Jenny. Ia hanya berlari dan berlari tanpa ada tujuan yang jelas. Sekitar 3,5 tahun ia berlari ia menjadi terkenal dan Jenny melihatnya di koran dan media televisi. Forrest yang sadar kalau ia tak akan menemukan seseorang dengan hanya berlari tanpa ada tujuan akhirnya ia pulang karena lelah. Sesampainya di rumah ia mendapati surat dari Jenny yang berisi alamat tempat Jenny tinggal. Langsung ia menuju apartemen tempat Jenny tinggal. Disana ia mendapati bahwa Jenny sudah mempunyai anak dan ternyata itu adalah anak Forrest. Forrest yang bahagia tak mampu menyembunyikan perasaannya meskipun ada rasa bersalah dalam dirinya tetapi Jenny tidak peduli akan hal itu Jenny memberi tahu Forrest bahwa ia memiliki semacam virus yang dokter tak sanggup berbuat apa apa dan ia meminta Forrest menikahinya. Akhirnya Forrest setuju dan beberapa tahun kemudian Jenny meninggal dunia.

2. Analisis Film Forest Gump (1994)


Pada film Forrest Gump yang telah saya tonton, tidak dijelaskan secara spesifik penyebab dari retardasi mental Forrest. Namun dari beberapa teori yang saya temukan penyebab retardasi mental dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.       Faktor Prenatal
Penggunaan berat alkohol pada perempuan hamil dapat menimbulkan gangguan pada anak yang mereka lahirkan yang disebut dengan fetal alcohol syndrome. Faktor-faktor prenatal lain yang memproduksi retardasi mental adalah ibu hamil yang menggunakan bahan-bahan kimia, dan nutrisi yang buruk. (Durand. David, 2007).·
            Penyakit ibu yang juga menyebabkan retardasi mental adalah sifilis, cytomegalovirus, dan herpes genital. Komplikasi kelahiran, seperti kekurangan oksigen dan cidera kepala, menempatkan anak pada resiko lebih besar terhadap gangguan retardasi mental. Kelahiran premature juga menimbulkan resiko retardasi mental dan gangguan perkembangan lainnya. Infeksi otak, seperti encephalitis dan meningitis juga dapat menyebabkan retardasi mental. Anak-anak yang terkena racun, seperti cat yang mengandung timah, juga dapat terkena retardasi mental. (Nevid, 2003)
b.   Faktor Psikososial
     Seperti lingkungan rumah atau sosial yang miskin, yaitu yang tidak memberikan stimulas intelektual, penelantaran, atau kekerasan dari orang tua dapat menjadi penyebab atau memberi kontribusi dalam perkembangan retardasi mental. (Nevid, 2003).
  Anak-anak dalam keluarga yang miskin mungkin kekurangan mainan, buku, atau kesempatan untuk berinteraksi dengan orang dewasa melalui cara-cara yang menstimulasi secara intelektual akibatnya mereka gagal mengembangkan keterampilan bahasa yang tepat atau menjadi tidak termotivasi untuk belajar keterampilan-keterampilan yang penting dalam masyarakat kontemporer. Beban-beban ekonomi seperti keharusan memiliki lebih dari satu pekerjaan dapat menghambat orang tua untuk meluangkan waktu membacakan buku anak-anak, mengobrol panjang lebar, dan memperkenalkan mereka pada permainan kreatif. Lingkaran kemiskinan dan buruknya perkembangan intelektual dapat berulang dari generasi ke generasi (Nevid, 2003).·


referensi :
Nevid, Jeffrey S. (2003). Psikologis abnormal (edisi 5). Jakarta : Erlangga

Selasa, 30 Mei 2017

Logoterapi

LOGOTERAPI
Awalnya Logoterapi diperkenalkan oleh Victor Frankl yaitu seorang dokter ahli penyakit syaraf dan jiwa. Kata logosterapi berasal dari bahasa yunani yaitu “logos” bearti makna ( meaning) dan Rohani ( Sprititualitiy), sedangkan terapi yaitu penyembuhan atau pengobatan. Logosterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/ psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup dan hasrat untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna yang didambakannya. Terdapat tiga asas utama logoterapi yang menjadi inti dari terapi ini:
1.      Hidup itu memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun.
2.      Setiap manusia memiliki kebebasan yang hampir tidak terbatas untk menentukan sendiri makna hidupnya
3.      Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap peritistiwa tragis yang dapat diletakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungan sekitar.
Tujuan logo terapi adalah agar setiap pribadi:
a.       Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
b.      Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikakn bahkan terlupakan
c.       Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
Pandangan logoterapi terapi terhadap manusia yaitu:
a.       Manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan dan spiritual.
b.      Manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengan dimensi ragawi dan kejiwaan.
c.       Manusia mampu melakukan self-detachment, yakni dengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menila dirinya sendiri
d.      Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar senantiasa berinteraksi dengan sesama manusia dan lingkungan sosial budaya serta mampu mengolah lingkungan fisik di sekitarnya.
Logoteapi sebagai teori kepribadian
Kerangka berpikirnya adalah sebagai berikut:
Setiap manusia ingin mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan logo terapi kebahagiaan itu tidak datang begitu daja tetapi merupakan akibat sampingan dari keberhasilan seseorang memnuhi keinginannya untuk hidup bermakna. Seseorang yang mengalami keberhasilan maka ia merasakan kebermaknaan hidup, begitu juga sebaliknya.
Logoterapi sebagai salah sati metode konseling
            Logoterapi digunakan untuk menolong klien untuk mencari dan menemukan makna eksistensi diri yang sepenuhnya. Hal ini berarti menolong klien bukan hanya untuk melihat kemungkinan-kemungkinan dari nilai hidup yang memberi makna tetapi juga menemukan relevansi dari nilai-nilai tersebut dalam kehidupan peribadinya. Logoterapi biasanya digunakan untuk klien-klien PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), karena orang yang mengalami stress akibat trauma biasanya menyalahkan diri sendiri atau menyalakan orang lain atas kejadian terebut.

KESIMPULAN
             Logoterapi merupakan terapi yang digunakan dengan memandang makna hidup sebagai tindakan terapi. Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita baik itu baik maupun tidak itu merupakan suatu nikmat yang harus diterima oleh manusia. Sehingga dengan kita menerima semua nikmat yang diberikan kita dapat memaknai hidup kita dengan baik. Dengan logoterapi klien diharapkan dapat termotivasi untuk tetap tegar dalam mengahadapi setiap kejadian dalam hidupnya.

kelompok 
Bella Apriana
Marlinda Diah N
Nadia Ulfha
Polina Arienday 

Minggu, 30 April 2017

Psikoterapi dalam Psikoanalisis Menganalisa Psikopatologis bedasarkan Perkembangan Psikoseksual

Nama : Marlinda Diah Nur'aini
Npm : 16514418
Kelas : 3PA19


Psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara klien dan terapis yang menggunakan prinsip-psinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran dan perasaan klien supaya membantu klien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu.
Orang yang melakukan psikoterapi disebut Psikoterapis (Psychotherapist). Seorang biasa dari kalangan dokter, psikolog atau orang dari latarbelakang apa saja yang mendalami ilmu psikologi dan mampu melakukan psikoterapi.


Bentuk-bentuk psikoterapi itu sendiri ada banyak, diantaranya adalah Psikoanalisa terapi yang dikemukakan oleh Freud. Terapi psikoanalisis ini merupakan pengembangan dari teori-teori psikoanalisa dari Sigmund freud, pada teori ini Freud memusatkan perhatiannya pada pentingnya masa kanak-kanak awal. Dalam pandangan ini benih-benih dari gangguan psikologi sudah ditanamkan pada tahun-tahun awal pertumbuhan


Dasar dari terapi psikoanalisa adalah konsep dari Sigmund Freud dan beberapa pengikutnya. Tujuan dari psikoanalisa adalah menyadarkan individu dari konflik yang tidak disadari serta mekasisme pertahanan (defense mechanism) yang digunakan untuk mengembalikan kecemasan. Apabila motif dan rasa takut yang tidak disadari telah diketahui, maka hal-hal tersebut dapat diatasi dengan cara yang lebih rasional dan realistis.
Psikoanalisis adalah pengetahuan psikologi yang menekankan pada dinamika, faktor-faktor psikis yang menentukan perilaku manusia, serta pentingnya pengalaman masa kanak-kanak dalam membentuk kepribadian masa dewasa. Dalam psikoanalisis ini ia memiliki beberapa pandangan, antara lain: kesadaran dan ketidaksadaran, struktur kepribadian, insting dan kecemasan, mekanisme pertahanan ego dan perkembangan psikoseksual (dalamBasuki, 2008).
Struktur Kepribadian : Menurut Freud kepribadian terdiri atas tiga system atau aspek, yaitu:

a. Id (aspek biologis),
b. Ego (aspekp sikologis)
c. Superego (aspek sosiologis).

Psikoanalisis dalam pengertian lain (Hjelle& Ziegler, 1992): Teori mengenai kepribadian & psikopatologi, serta metode terapi untuk gangguan kepribadian teknik untuk menyelidiki pikiran & perasaan individu yang tidak disadari.
Menurut Freud psikopatologi sebagai masalah dalam perkembangan, yaitu terganggunya kepribadian individu pada saat melewati tahap-tahap psikoseksual. Bagi Freud, perkembangan kepribadian sebagai sesuatu yang komulatif, sehingga gangguan pada masa awal perkembangan akan menjadi peristiwa traumatik yang berpengaruh sampai individu dewasa.
Psikopatologi menurut psikoanalisis ada beberapa jenis yaitu : histeria, fobia, obsesi-kompulsi, depresi, dan ketagihan obat (Alwisol, 2005 : 45).

a. Histeria
Histeria merupakan gangguan fisik, misalnya lumpuh, tuli, buta, dst. Yang penyebabnya bukan factor jasmaniah tetapi factor kejiwaan. Menurut Freud hysteria merupakan transformasi dari konflik-konflik psikis menjadi mal fungsi fisik.

b. Fobia
Fobia adalah ketakutan yang tidak realistis. Freud memandang gangguan ini sebagai dampak dari kecemasan yang dialihkan, bias berupa kecemasan yang berkaitan dengan impuls seksual maupun kecemasan akibat peristiwa traumatis.

c. Obsesi-kompulsi
Obsesi adalah ide tertentu yang selalu melekat pada diri seseorang sedangkan kompulasi adalah dorongan (bersifat paksaan dari dalam) untuk melakukan tindakan tertentu, yang sebenarnya tidak perlu, secara berulang-ulang .

d. Depresi
Depresi merupakan gangguan jiwa dengan gejala-gejala perasaan tidak mampu, tidak berguna dan berharga. Menurut Freud, depresi berakar pada kehilangan cinta berkenaan dengan oedipus complex, sehingga dia marah pada diri sendiri

e. Ketergantungan pada alcohol dan obat-obatan
Menurut Freud ketergantungan seseorang pada alcohol maupun obat-obatan dilator belakangi oleh instink kematian (thanatos) yang ada pada orang yang bersangkutan.

Perkembangan Psikoseksual

Freud mengatakan bahkan setiap orang mempunyai seksualitas anak-anak (infantile sexuality) yaitu dorongan seksual yang terdapat pada bayi. Dorongan ini akan berkembang terus menjadi dorongan seksualitas pada orang dewasa, melalui beberapa tahap perkembangan, yaitu:

a. Oral (0-2 tahun): daerah kepuasan seksual terdapat pada area sekitar mulut.
b. Anal (2-3 tahun): daerah kepuasan seksual terdapat pada anus.
c. Phalic (3-6 tahun): daerah kepuasan terdapat pada alat kelamin (mulai mengerti jenis kelaminnya) namun tidak bertujuan untuk mengembangkan keturunan.
d. Latent (6-12 tahun): fase ini adalah fase sembunyi dimana seseorang tidak menunjuk anak aktivitas seksualnya.
e. Genital (+12 tahun): fase remaja kepuasan seks terutama berpusat pada alat kelamin.


Referensi

http://psikopatologi.blogspot.co.id/2015/10/psikoanalisis.html
http://www.psychologymania.com/2011/10/pengertian-psikoterapi.html
Alwisol. (2004). Psikologi kepribadian. Malang: Universitas muhammadyah malang.
Tomb, D.A. (2000). Buku saku psikiatri: Edisi keenam. Jakarta: EGC

Jumat, 31 Maret 2017

SEJARAH PSYCHE

Sejarah psyche
Psikhe adalah anak bungsu dari anak suatu kerajaan. Psikhe memiliki wajah yang cantik, hati yang baik sehingga banyak orang menyembah dia sebagai dewi kecantikan dimana dahulu dewi kecantikan adalah afrodit. Afrodit marah akan hal itu sehingga ia menyuruh anaknya sang dewa cinta yaitu cupit untuk menembakkan panah kepada lelaki terjelek di dunia. Ketika cupid ingin menembakkan panah ke arah laki-laki itu tiba-tiba tangannya tergores dengan panah cintanya karna ia melihat psyche yang begitu cantik, sehingga ia jatuh cinta kepada psyche dan tidak melaksanakan perintah Afrodit.
Suatu hari psyche sudah menginjak usia dimana ia diwajibkan untuk menikah, namun tak ada satupun laki-laki yang menikahinya, hingga suatu hari orangtua psyche datang ke orakel meminta nasihat. Cupid membuat Oracle berkata bahwa Psikhe tidak ditakdirkan untuk menikahi seorang manusia, melainkan Psikhe harus menikah dengan suatu makhluk yang tinggal di sebuah gunung. Kemudian psikhe meninggalkan tempat tinggalnya dan pergi ke gunung untuk bertemu dengan jodohnya. Ia terus berjalan sambil memberanikan diri. namun karena ia tidak kuat menahan rasa takutnya, ia menitikkan air mata. Tiba-tiba datanglah Zefiros, dewa angin barat. Zefiros lalu membawa Psikhe dari gunung itu menuju suatu tempat.
Setelah sampai di istana yang terletak di tengah hutan tersebut psikhe dilayanin dengan sangat baik. Kemudian pada suatu malam psikhe mendengar suara seorang laki-laki yang halus dan ramah, ternyata itu adalah cupid suaminya. Mereka menghabiskan waktu bersama setiap malam namun dengan keadaan gelap gulita dan sampai sekarang psikhe tidak pernah melihat wujud suaminya. Sampai suatu ketika kakak-kakak psikhe datang ke istana tersebut dan mereka merasa iri denga psikhe. Kemudian psikhe menceritakan tentang suaminya kepada kakak-kakaknya dan dengan kesempatan ini kakak-kakaknya psike membuat psikhe agar bercerai dengan suaminya dengan cara memanasi psike untuk segera mengetahui siapa suaminya itu sebenarnya.
Suatu malam psikhe membawa lentara dan menyinari wajah suaminya tersebut dan akhirnya psikhe tahu bahwa suaminya selama ini adalah cupid karena ia kaget ia tidak sengaja menumpahkan minyak ke badan cupid. Cupid merasa marah kepada psikhe, lalu cupid tidak pernah kembali lagi.
Kemudian psikhe bertemu dengan ibu dari cupid yaitu afrodit. Karena Afrodit tidak menyukai Psike ia memberikan tiga syarat untuk bertemu dengan cupid. Kemudian Psikhe menjalankan kedua syarat tersebut, untuk syarat ketiga yaitu Psike disuruh oleh afrodit untuk mengambil air kecantikan, lalu psikhe gagal karena psikhe tidak menaati peraturan yang diberikan oleh zeus berkenaan dengan air tersebut.
Akibat Psikhe tidak mematuhi peraturan tersebut ia tertidur selamanya, namun tiba-tiba cupid datang dan melihat psike tertidur, ia merasa sedih melihat istrinya. Kemudian cupid memohon kepada zeus agar mencabut hukumannya, lalu zeus mengabulkan. Akhirnya cupid memaafkan istrinya dan Psike meminta maaf kepada Cupid. Mereka hidup bahagia selamanya.



Nama : Marlinda Diah Nur'aini
Kelas : 3PA19
NPM : 16514418 

Minggu, 08 Januari 2017

Kepuasan Kerja (Tugas 6)

A. Pendahuluan

Pada Dasarnya kepuasan kerja itu bersifat individual karena setiap orang memiliki tingkat kepuasan yang berbeda beda, semakin banyak hal hal dalam pekerjaannya yang sesuai dengan keinginkan atau harapan karyawan maka akan semakin besar pula peluang kepuasan kerja yang dirasakan seorang karyawan. Kepuasan kerja sangat berhubungan dengan hasil kerja karyawan, jadi ketika seorang karyawan memiliki kepuasan kerja secara otomatis karyawan akan berusaha untuk menyelesaikan atau melakukan tugasnya dengan baik. Dengan begitu seorang karyawan dapat melalukan pencapaian yang baik bagi sebuah organisasi atau perusahaan.

B. Teori

Menurut Kreitner dan Kinicki (2001;271) kepuasan kerja adalah  “suatu efektifitas atau respons emosional terhadap berbagai aspek  pekerjaan”.
Davis dan Newstrom (1985;105) mendeskripsikan “kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan pegawai tentang  menyenangkan atau tidaknya pekerjaan mereka”.
Menurut Robbins (2003;78) kepuasan kerja adalah “sikap umum terhadap pekerjaan seseorang yang menunjukkan perbedaan antara jumlah penghargaan yang diterima pekerja dan jumlah yang mereka yakini seharusnya mereka terima”.

C. Kasus

Ikbal bekerja pada suatu perusahaan yang menuntut dirinya untuk bekerja kejar target dan sesekali bekerja lembur  tapi perusahaan tempat ikbal bekerja kurang mensejahterakan karyawannya seperti kurang memberikan pelatihan serta gaji karyawan yang tidak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan, akhirnya ikbal memutuskan keluar dari pekerjaan tersebut. Ikbal mulai melamar pekerjaan baru dengan harapan mendapatkan gaji yang sesuai keinginannya (sekitar 3.5 juta perbulan) akhirnya ikbal diterima bekerja diperusahaan baru dan mendapatkan gaji 3.8 juta perbulan, jika ikbal bekerja lembur maka akan mendapatkan bonus yang ditambahkan dengan gaji bulanannya, selain itu perusahaan baru ikbal suka mengadakan pelatihan untuk peningkatan skill karyawan. Dengan begitu ikbal merasa betah bekerja ditempat yang baru dan bekerja dengan   Mengerahkan kemampuan maksimalnya.

D. Analisis

Pada perusahaan pertama terlihat bahwa perusahaan tidak bisa memberikan sesuatu yang diinginkan karyawan sehingga karyawan tidak memiliki kepuasan dalam bekerja, berbeda dari perusahaan kedua dimana perusahaan kedua mengerti apa yang menjadi keinginan karyawan sehingga dapat memotivasi karyawan untuk bekerja dengan maksimal sehingga bisa merasakan kepuasan dalam bekerja karena dengan karyawan yang memiliki kepuasan kerja mereka akan bekerja dengan semaksimal mungkin dan hal ini dapat memajukan perusahaan tersebut.

E. Referensi

eprints.uny.ac.id/7518/3/BAB%202-09409131010.pdf



Nama : Marlinda Diah Nur'aini
Kelas : 3PA19
NPM : 16514418

Sabtu, 19 November 2016

Job Enrichment (Tugas 5)

Pendahuluan

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa seorang karyawan selalu bekerja dibawah perintah atasan serta peraturan yang telah dibuat. Dengan begitu seorang penimpin juga diharapan bisa memberikan motivasi kepaada karyawannya untuk bisa meningkatkan kualitas kerja, salah satu caranya melalui job enrichment. Apa itu job enrichment? Mari kita bahas......

Teori

Menurut Mathis dan Jackson (2006) 
Job Enrichment adalah peningkatan kedalam sebuah pekerjaan dengan menambah tanggung jawab untuk merencanakan, mengatur, mengendalikan dan nengevaluasi pekerjaan.
Menurut ivancevich, konnopaske, dan matteson (2006) Job enrichment didefinisikan sebagai proses membangun pencapaian pribadi, pengakuan, tantangan, tanggung jawab, dan kesempatan tumbuh dalam pekerjaan seseorang. Hal ini memiliki dampak meningkatkan motivasi individu dengan menyediakan lebih banyak tanggung jawab ketika melaksanakan pekerjaan yang menantang.
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa job enrichment adalah peningkatan pekerjaan dengan memberikan tanggung jawab untuk merencanakan, mengatur, mengendalikan dan mengevaluasi. Dengan job enrichment dapat meningkatkan motivasi karena menberikan banyak tanggung jawab kepada karyawan.

Kasus

Seorang karyawan yang menjabat sebagai staff disebuah perusahaan akan mendapatkan kenaikan jabatan menjadi supervisor/asisten manager setelah empat tahun bekerja dengan persyaratan harus mengikuti training yang diadakan perusahaan terlebih dahulu, dengan begitu diharapan seorang supervisor nantinya akan memiliki kemampuan yang lebih dan juga bisa memajukan kualitas perusahaan dari apa yang sudah dipelajari.

Analisis

Dapat dianalisis dari kasus diatas bahwa tujuan dari perusahaan mengadakan training terlebih dahulu bagi staff yang akan naik jabatan adalah untuk menambah wawasan serta kemampuan mengenai tugas baru yang akan dijalaninya. Dengan kenaikan jabatan secara otomatis staff juga diberikan tanggung jawab baru yang lebih besar, dengan begitu seorang staff akan merasa tertantang dan termotivasi dirinya untuk menjalankan sebaik mungkin dengan kemampuan yang dimiliki untuk menjalankan tanggung jawab baru tersebut.

Referensi

Ivancevich, J,M., Konopaske, R., Matteson, M.T. (2006). Perilaku dan manajemen organisasi.  Jakarta: Penerbit Erlangga
http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2012-2-00213-MN%20Bab2001.pdf


Marlinda Diah Nur'aini
16514418 / 3PA19
20 November 2016

Sabtu, 05 November 2016

Teori Reinforcement, Teori Harapan, Teori Penetapan Tujuan, dan Teori Hierarki Kebutuhan Beserta Impikasi Praktisnya dalam Perilaku

A. Pendahuluan

1. Reinforcement
Pengguanaan reinforcement sangat penting bagi keberhasilan operant condisioning. Dengan memberikan penguat pada setiap perilaku yang muncul akan membuat perilakunya. muncul secra berulang. Jadi dengan mempergunakan reinforcement seorang bekerja tergantung pada penghargaan yang diterimanya dan akibat dari yang akan dialaminya nanti.
2. Harapan
Setiap orang pasti memiliki harapan untuk hidupnya, apa itu harapan? Harapan adalah suatu kesempatan yang disediakan dan akan terjadi karena perilaku. Jika harapan menjadi kenyataan seseorang pasti kan cenderung meningkatakn kualitas dirinya, begitu juga sebaliknya.
3. Penetapan Tujuan
Segala sesuatu yang kita lakukan pasti memiliki sebuah tujuan didalamnya. misialnya dengan penetapan tujuan dapat memberi arah dan panduan bagi para karyawan di semua  bagian serta membantu perusahaan dalam mengevaluasi kinerja yang telah dilakukan dan melakukan perbaikan.
4. hierarki kebutuhanm
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, ketika suatu kebutuhan sudah terpenuhi manusia akan cenderung memenuhi kebutuhan lain yang lebih tinggi. Menurut Abraham Maslow manusia memiliki lima kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa amaman, kebutuhan sosial, kebutuhan akan pengarahan, dan  yang paling tinggi kebutuhan aktuaisasi diri. 

B. Teori

1. Teori Reinforcement
Suatu strategi kegiatan yang membuat perilaku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya (berpeluang untuk tidak terjadi) pada masa yang akan datang. Respon operan yang mendapatkan reinforcement berpeluang untuk lebih sering terjadi (agar mendapat reinforcement yang diinginkan). Teori ini biasa digunakan oleh perusahaan atau organisasi untuk meningkatkan kinerja para karyawan/anggotanya.
2. Teori Harapan
Menurut Victor Vroom teori harapan menunjukkan kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dalam cara tertentu pada kekuatan dari suatu harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil yang ada dan pada daya tarik dari hasil itu terhadap individu tersebut. Dalam bentuk yang lebih praktis, teori harapan mengatakan bahwa karyawan-karyawan akan termotivasi untuk mengeluarkan tingkat usaha yang  tinggi karena mereka yakin bahwa usaha tersebut akan menghasilkan penilaian kinerja yang baik; penilaian yang baik akan menghasilkan penghargaan-penghargaan organisasional seperti bonus, kenaikan imbalan kerja, atau promosi; dan penghargaan-penghargaan tersebut akan memuaskan tujuan-tujuan pribadi para karyawan. Teori harapan membantu menjelaskan mengapa banyak pekerja tidak termotivasi dalam pekerjaan-pekerjaan mereka dan hanya melakukan usaha minimum untuk mencapai sesuatu.
3. Teori Penetapan Tujuan 
Dalam teori ini Edwin Locke mengemukakan kesimpulan bahwa penetapan tujuan suatu yang tidak hanya berpengaruh terhadap pekerjaan saja, tetapi juga mempengaruhi orang tersebut untuk mencari cara yang efektif dalam mengerjakannya (Mangkunegara, 2005). Kejelasan tujuan yang hendak di capai oleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya untuk menumbuhkan motivasi yang tinggi. Tujuan yang sulit sekalipun apabila di tetapkan sendiri oleh orang yang bersangkutan atau organisasi yang membawahinya akan membuat prestasi yang meningkat, asalkan dapat diterima sebagai tujuan yang pantas dan layak dicapai (Siagian, 2004). 
4. Teori Hierarki Kebutuhan
Dalam teori hierarki kebutuhannya, Maslow mengajukan bahwa semua orang memiliki kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus terpuaskan terlebih dahulu sebelum mereka menyadari kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih tinggi tingkatannya.    Maslow memisahkan lima kebutuhan ke dalam urutan-urutan yang lebih tinggi dan lebih rendah. Kebutuhan fisiologis dan rasa aman di deskripsikan sebagai kebutuhan tingkat bawah (lower-order needs); kebutuhan sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri sebagai kebutuhan tingkat atas (higher-order needs). Perbedaan antara kedua tingkatan tersebut di dasarkan pada pemikiran bahwa kebutuhan tingkat atas di penuhi secara internal ( di dalam diri seseorang), sementara kebutuhan tingkat rendah secara dominan di penuhi secara eksternal (oleh hal-hal seperti imbalan kerja, kontrak serikat kerja, dan masa jabatan).  Ia mengidentifikasi lima jenis dari kebutuhan: 
a.      Kebutuhan fisiologis (physiological needs)
Kebutuhan-kebutuhan dasar ini termasuk makanan, rumah tinggal, dan pakaian. Di temat kerja, pemberi kerja memuaskan kebutuhan-kebutuhan ini dengan membayar gaji dan upah serta membangun suasana kerja yang nyaman.
b.      Kebutuhan akan keamanan (safety needs)
Kebutuhan-kebutuhan ini mengacu pada hasrat terhadap perlindungan fisik dan ekonomis. Karyawan memuaskan kebutuhan-kebutuhan ini dengan memberikan manfaat seperti program dana pensiun, kemanan kerja, dan lingkungan kerja yang aman.
c.      Kebutuhan sosial (social/belongingness needs)
Orang-orang ingin diterima oleh keluarga dan individu lain dan kelompok. Di tempat kerja, para karyawan ingin membangun hubungan baik dengan rekan kerja dan manajer mereka dan untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompok.
d.      Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs)
Orang-orang senang menerima perhatian, pengakuan, dan apresiasi dari orang lain. Karyawan merasa senang ketika mereka dihargai atas kinerja yang baik dan dihormati atas kontribusi mereka.
e.      Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization)
Kebutuhan-kebutuhan ini mendorong orang-orang untuk mencari pemenuhan kebutuhan, menyadari tentang potensi diri mereka dan secara penuh demnggunakan bakat dan kapabilitas mereka. Para karyawan dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan ini dengan menawarkan penugasan kerja yang kreatif dan menantang untuk peningkatan diri dengan mempertimbangkan kebaikan individu.

C. Kasus 

1. Reinforcement
Seorang anak yang belajar berenang dengan pelatihnya, awalnya dia merasa tidak percaya diri saat disuruh untuk mempraktekan gerakan yang sudah dicontohkan pelatihnya. Namun lama kelaman sang anak mulai percaya diri kerena merasa mampu serta mendapatkan mendapatkan pujian dari pelatih  dan juga dukungan dari kedua orangtuanya. Hingga pada suatu ketika sang anak mengikuti lomba renang tingkat sekolah dan mendapatkan juara 3, sang anak mulai menyadari bahwa dia memang mampu  melakukannya dan berkeinginan untuk menjadi lebih baik lagi dalam perlombaan selanjutnya.
2. Harapan
Seorang sales yang membutuhkan uang tambahan untuk biaya berlibur diakhir tahun, lalu sales tersebut berusaha keras untuk memasarkan produk-produknya hingga mencapai target penjualan yang tinggi dengan pengharapan akan mendapatkan uang bonus dari atasannya sebagai uang tambahan untuk berlibur diakhir tahun. 
3. Penetapan Tujuan
Universitas Gunadarma dalam mencapai visinya yaitu menjadi kampus berbasis teknologi informasi, maka mewajibkan mahasiswa beserta staff gunadarma memiliki kompetensi dalam hal computer dan teknologi informasi.
4. Hierarki Kebutuuhan
Seorang karyawan yang berkerja dengan rajin setiap harinya, pada suatu ketika mendapatkan informasi bahwa perusahaannya akan mengalami kebangkrutan namun karyawan tersebut tidak terlalu memperdulikan informasi yang belum tentu kebenarannya karena belum ada penyampaian langsung dari pihak perusahaan, karyawan itu pun masih giat berangkat kekantor dan bekerja dengan rajin. Akan tetapi setelah beberapa bulan berlalu ternyata perusahaan mulai menunjukan tanda-tanda kebangkrutann, maka karyawan tersebut mulai merasa tidak tenang bekerja lagi diperusahaan itu. Sehingga menimbulkan perilaku yang malas ketika berangkat bekerja dan lebih banyak mencari informasi tentang lowonagan pekerjaan diperusahaan lain.

D. Analisis

1. Reinforcement
Seorang anak yang awalnya tidak memiliki kepercayaan diri dengan kemampuan yang dipunya namun mendapatkan penguatan dari pelatih dan kedua orangtua yang berupa pujian dan dukungan. Ini membuat si anak bersemangat dan giat berlatih terus menerus sehingga dia berhasil mendapatkan juara dalam perlombaan.
2. Harapan
Dengan harapan akan mendapatkan uang bonus dari atasan maka sales menjadi termotivasi untuk berusaha lebih keras memasarkan produk-produknya hingga mencapai target penjualan yang tinggi, karena apabila sales tidak dapat menjual produk-produk tidak mencapai target tentu saja sales tersebut tidak mendapatkan uang bonus untuk tambahan liburan diakhir tahun.  
3. Penetapan Tujuan
Untuk mencapai tujuan sebagai kampus yang berbasis teknologi gunadarma manetapkan tujuan bagi para mahasiswa serta staffnya untuk bisa mengoprasikan komputer, walaupun tujuan yang akan dicapai tidak cukup mudah tapi tetap masih bisa diterima oleh para mahasiswa serta staff dengan begitu secara otomatis para mahasiswa serta staff mau tidak mau meningkatkan kemampuan yang dipunya demi mencapai tujuan sebagai kampus yang berbasis teknologi.
4. Hierarki Kebutuhan
Dari kasus ini dapat dilihat bahwa perusahanan masih tertutup tentang masalah yang sedang dihadapi dan tidak terbuka dengan para karyawannya, kejelasan yang tidak diberikan perusahaan membuat nasib karyawan tidak jelas, padahal seorang karyawan harusnya mendapatkan perlindungan dari perusahaan mengenai nasib mereka yang bersangkutan dengan masalah yang dihadapi perusahaan.



E. Referensi 

Boone, L.E., Kurtz, DL. (2007). Pengantar bisnis kontemporer. Jakarta: Salemba Empat
Efendi, F.N. (2008). Pendidikan dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Judge, T.A., Robbins, S.P. (2008). Perilaku organisasi. Jakarta: Salemba Emapat 

Marlinda Diah Nur'aini
16514418 / 3PA19
Minggu, 06 Oktober 2016 (10:20)